Mencari rahasia semantik puisi Ibrahim Sattah secara Gramatikal.rasanya akan menemukan kegagalan meskipun kita dapat menemukan satuan gramatikal yang terkecil dalam sistematik bahasa yang ditampilkannya.
Aspirasi kata dalam puisi-puisinya tampil dengan perbedaan-perbedaan yang tidak fungsional. Kehadiran kata yang terbelah-belah dalam kumpulan “Ibrahim” memperkuat keyakinan saya bahwa analisa bunyi diluar tata bahasa akan dapat memberi interprestasi yang lebih akrab dengan rahasia semantik puisi-puisinya. Meskipun akan banyak ditemukan aksentuasi penampilan fonetik, fonologi dengan kaitannya dalam morfologi dan sintaksis yang secara khas dan baru hanya ditemukan dalam puisi-puisi Ibrahim Sattah.
Pada taraf fonologi fonemonem yang tampil dalam puisinya memang tidak bermakna; fungsi membedakan makna, duka duki, dandandid, begitu pula dengan walu wa walau wu walau wi dan a i u e o nya.
“Puisi-puisi saya bertolak dari peristiwa alam, tidak dari peristiwa kebudayaan”. Ucapan itu dinyatakannya di tahun 1978, dan dua tahun kemudian 1980 kembali diucapkan secara mengagetkan dalam suatu acara penampilannya di Taman Izmail Marzuki, Jakarta.
Saya katakan “mengagetkan”. Karena ucapan semacam itu tentu bisa disalah artikan. Disamping pada gilirannya juga mengandung resiko dapat memojokkannya selaku penyair yang termasuk paling bersungguh-sungguh dewasa ini.
Namun sebenarnya bisa segera dipahami. Terutama seandainya lebih awal orang berkesempatan menyimak percakapan Slamet Sukirnanto dengan pelukis Rujito, yang antara lain mengatakan :
“Sajak-sajhak Ibrahim Sattah lahir dari kehidupan batin, keluar dari kedfalaman lembah keprasejarahan dan kepurbaan lewat pergolakan gelap terang… terasa sebagai organisme sendiri yang diucapkan secara absolut, menyerap ke dalam, tenang, dekat dengan sumber dan langsung di dalamnya. Segar, jernih menjelajah pengalaman batin yang lain”. Atau dari Ikranegara, “Potret manusia dalam puisi-puisi Ibrahim Sattah memang tidak berada dalam konteks ‘manusia tak modern’ tapi lebih tepat diklasifikasikan sebagai ‘manusia alam’. gambaran dunia yang ada didalam puisi-puisinya juga seperti itu, sehingga ada semacam ‘naivisme’ mencuat keluar.”
Bagi saya yang merasa beruntung dapat lebih mengenal Ibrahim Sattah sejak awal perjalanan kreatifnya, justru melihat, dengan pernyataan itu dia ada pada makna yang paling dasar dari “karakter revolusioner” nya Erich Fromm. Yaitu bila mana manusia adalah tujuan bagi dirinya sendiri dan bukan alat bagi tujuan yang digerakkan dari luar dirinya. Atau bilamana makna hidup yang sejati hanya digerakkan oleh sesuatu dari dalam diri sendiri, yang digerakkan dari luar.
Sebab, “sesuatu yang digerakkan, tidaklah hidup “. Kata Erich Fromm. “menghormati kehidupan bukan berpegang erat kepada kehidupan, tapi menghidupi kehidupan”. Dan ini saya temukan secara total dalam pengungkapan seluruh organ individualitas Ibrahim Sattah baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam penampilan puisi-puisinya. Atau bahkan kalau boleh saya katakan, dalam tiap hubungannya dengan dunia dimana dia melihat, mendengar, mencium, merasa, m eraung, berpikir, berkehendak, bercinta dan seterusnya.
Disinilah letak arti penting dari pernyataan Ibrahim Sattah, mengapa puisi-puisinya bertolak dari peristiwa alam dan tidak dari peristiwa kebudayaan. Dengan pernyataan itu nampaknya Ibrahim berusaha mengatasi batasan-batasan yang sempit dari masyarakatnya dan tidak ikut terjebak dalam arus “kebudayaan“ tetapi “lepas bebas dari segala macam otomat-otomat yang berkembang menjadi abstrakksi-absrtaksi”. Sperti dalam pandangan Erich Fromm.
Husnu Abadi, 15 Desember 1980
Tidak ada komentar:
Posting Komentar